Topik: Budi Putra
Mungkin ada hikmahnya juga peristiwa darurat Internet Asia yang membuat akses Internet dari dan menuju kawasan ini mendadak down.
Seperti diwartakan kemarin, jalur komunikasi Internet di sebagian wilayah Asia terputus karena gempa 7,2 skala Richter di Taiwan. Gempa itu mengakibatkan empat kabel serat optik bawah laut yang menjadi saluran komunikasi negara-negara Asia ke Amerika Serikat putus.
Putusnya empat kabel serat optik itu membuat kapasitas bandwidth (saluran lalu lintas data) dari Indonesia ke Amerika Serikat anjlok menjadi 17 persen dibanding saat normal.
Jaringan Internet di kawasan Asia memang mengandalkan kabel serat optik bawah laut sebagai jalan tolnya. Saat gempa terjadi di Taiwan, “jalan tol” itu ambrol. Padahal komunikasi data Indonesia sebagian besar melewati jalan tol bawah laut yang disebut jalur South East Asia-Middle East-Western Europe 3 (SMW3) itu.
Untuk mengatasi hal itu, sebagian data dialihkan ke jalur alternatif lewat satelit. Pemerintah Indonesia langsung berakrobat dengan mengizinkan penggunaan satelit asing sebagai alternatif akses Internet. Padahal sebelum ini, hal semacam ini dilarang.
Tapi tetap saja jalan alternatif itu terlalu sempit. Lalu lintas data kisruh. Internet lumpuh. Para pengguna Internet dan pengusaha warnet pun mengaduh.
Pembangunan dan perbaikan kembali kabel serat optik tersebut jelas tak bisa kelar dalam satu-dua hari: paling tidak akan memakan waktu tiga pekan hingga satu bulan ke depan.
Yang jelas, sudah saatnya Indonesia memikirkan skenario untuk mengantisipasi bencana semacam ini.
Mengubah kebijakan dengan cara mengizinkan operator menggunakan satelit asing paling tidak akan mampu menjadi salah satu back-up di masa yang akan datang. Meskipun kapasitas satelit tidak sebesar kabel serat optik, akses penggunaan satelit ini layak menjadi pertimbangan sebagai “contigency plan”.
Tetapi masalah yang paling mendasar sesungguhnya bukan pada keberadaan kabel bawah laut atau satelit asing. Jika Indonesia punya berbagai rute kabel bawah laut sekalipun, atau punya banyak akses ke berbagai satelit asing sekalipun, masalahnya akan sama saja jika terjadi lagi bencana yang menghantam sisi teknis seperti tempo hari: kita akan kelimpungan lagi dalam waktu yang lama.
Kenapa? Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap pihak asing. Bayangkan, seperti ditulis editorial Koran Tempo Jumat (29/2), 80 persen bandwidth yang digunakan penyedia jasa Internet di negeri ini bergantung pada pihak luar negeri! Pasalnya, sebagian besar content (isi) yang diakses dan digunakan oleh orang Indonesia adalah content asing dan ditempatkan di server luar negeri pula.
Jika setiap hari Anda menggunakan Yahoo dan Google untuk mencari arsip atau mengirim mailing-list, mengakses CNN.com dan BBC.co.uk untuk baca berita, atau suka bertelepon via Skype; berarti Anda ikut menyumbang pemborosan bandwidth asing yang 80 persen itu.
Padahal, jika ketergantungan Indonesia pada bandwidth asing tak sebesar itu, mungkin rona lalu-lintas akses Internet di negeri ini tak perlu seseram tempo hari: gelap gulita. Bukankah ketika bencana internet Asia terjadi, situs-situs yang nangkring di server-server Indonesia masih bisa diakses?
Ya, kinilah saatnya mendorong dan menciptakan content dan layanan lokal yang ditaruh di Indonesia. Layanan mailing-list lokal semacam groups.or.id perlu didukung. Beberapa layanan situs, blog, dan aggregator lokal, perlu dipertimbangkan untuk kita gunakan bersama-sama.
Dari sisi pemerintah, sudah saatnya pemerintah mendorong munculnya penyedia content dan aplikasi lokal agar ke depan ketergantungan kita terhadap “jalan tol” asing jadi berkurang. Mestinya pemerintah juga bisa mengalokasikan dana ratusan miliar rupiah untuk upaya ini — seperti rencana kolosal pembelian lisensi sebuah sistem operasi.
Publik pengguna Internet pun diharapkan mulai melirik layanan domestik. Mungkin layanan lokal belum secanggih layanan luar, tetapi jika penggunanya banyak sehingga traffic-nya tinggi, jelas pengusaha lokal akan punya “nafas” untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya ini.
Jadi solusi dan kenyamanan akses bagi pengguna Internet Indonesia dalam jangka panjang sesungguhnya tidak terletak pada pada kabel bawah laut ataupun satelit asing, tetapi pada seberapa banyak layanan, aplikasi dan content lokal yang kita miliki.
Dengan demikian, Indonesia akan terhindar dari julukan “fakir bandwidth” — istilah yang dilontarkan sebuah komunitas internet di Indonesia — tapi justru sebaliknya, akan naik kelas jadi “raja bandwidth”.
Alangkah indahnya jika momentum bencana Internet Asia ini bisa dijadikan batu loncatan bagi Indonesia untuk memposisikan diri jadi negara yang bukan lagi sekadar jadi penonton, tapi juga pemain, di ranah Internet.
Jika dengan kebijakan baru ini kemudian ternyata lahir bintang-bintang baru di jagat Internet Indonesia, bukankah bencana Asia ini ternyata juga bisa jadi suatu berkah dalam jangka panjang?
Budi Putra
Versi aslinya ditayangkan di Tempo Interaktif
Silahkan berlangganan
Update: Blog Toekang IT di CNET Asia, Ngeblog di BlogDetik, DagDigDug, IndoBlogger, Silakan Berponsel di Pesawat, Duel 3G: UMTS Versus 1xEV-DO, Repositioning thegadget: Panduan Ngeblog, Melongok Adsense ala Indonesia, Sejarah Blog di Indonesia, Amnesty International Galang Blogger,
Yuda
Dec 29, 2006 at 10:26 pm
Saya masih ingat yang dibilang Pak Cahyana (Dirjen Aplikasi dan Telematika Kominfo) di ILC 2006 bahwa mereka sedang mengusahakan menarik yahoo.co.id dan google.co.id benar-benar masuk ke dalam negeri dengan kata lain servernya di Indonesiakan. Dan juga beliau mencanangkan program .id saja dimana nanti minimal setiap pemda menggunakan domain .id dan servernya berada di dalam negeri. Dan juga akan dibuatnya repo-repo lokal (ga tau tapi repo apa aja
).
Oskar Syahbana
Dec 30, 2006 at 1:18 am
Agregator internet sendiri? Basically maksudnya konten yang dimiliki (dan di host) di Indonesia sendiri bukan begitu mas maksudnya? Saya rasa tidak mungkin at least untuk 3 tahun ke depan (loh kok ada angka ajaib di sini?? hehehe). The main reason is, content will follow where the money goes. Selama industri IT di tanah air belum menjanjikan (bagi inovator), maka akan sangat sedikit inovasi yang lahir.
Coba lihat groups.or.id. Apa inovasi-nya bila dibandingkan dengan (misalnya) Yahoogroups? Bukan bermaksud merendahkan pihak-pihak tertentu, tetapi user awam mana yang akan secara sukarela memilih groups.or.id dibandingkan Yahoo?
Yahoo sendiri menjadi seperti sekarang ini karena mereka keep innovating, baik dalam teknologi maupun user interface. Mengapa bisa begitu? Mereka memiliki inovator. Kenapa bisa? Because that’s where the money goes.
Coba deh mas baca artikel tentang argonauts di majalah Teknopreneur edisi 2 ini yang ditulis oleh Carlos Patriawan. Kebanyakan entrepreneur silicon valley yang kembali ke negaranya untuk berbisnis itu cuma karena satu hal. Bukan karena rasa nasionalisme atau cinta negara, tapi karena mereka memang melihat kesempatan di negara tersebut.
Now basically speaking, lebih mudah mana, berbisnis IT di Indonesia atau di luar sono? Jujur, duitnya lebih gede di luar sono, ditambah lagi birokrasi dan “pajak” serta “pungutan” di dalem negeri bener2 membelit leher. Mending engineer Indonesia berkreasi untuk membuat sebuah produk yang dilempar ke pasar luar negeri (which means server-nya pun di luar negeri). Lebih profitable
enda
Dec 30, 2006 at 2:11 am
menurut saya agak aneh kalo hare gene masih sibuk memikirkan ketergantungan pada pihak asing, pertama adalah yg disebut “asing” itu yang mana? yang kedua adalah bukan saatnya lagi mengambil dikotomi asing dan asli, ga masalah 80% orang indonesia mengakses content dari luar indonesia asal ga cuma jadi penonton, tapi juga berkarya dan berkontribusi, sehingga content kita pun didatangi oleh “asing”
information exchange, data exchange yang bebas dan terbuka secara global adalah salah satu impian yang dijanjikan oleh internet, kalo kembali lagi terkotak pada asing dan tidak asing, maka sebaiknya bikin internet nasional sendiri.
boedipoetra
Dec 30, 2006 at 9:50 am
@ Yudha:
Saya kira usaha ke arah itu patut didukung.
@ Oskar:
Anda benar, itu memang kondisinya sekarang. Tapi kita juga harus mendorong inovator Indonesia muncul sehingga makin banyak content dan layanan lokal kita.
@ Enda:
Point saya bukan soal dikotomi asing dan lokal. “Ketergantungan pada pihak asing” berarti dolarnya hanya nyangkut di luar. Semakin banyak traffic yang berasal dari Indonesia, yang dapat uang tetap saja mereka yang di luar. Jadi perlu ada kemandirian. Seperti yang juga Anda bilang, kalau kita juga berkarya dan berkontribusi, sehingga content kita pun di datangi oleh “asing” — nah, itu point-nya. Akan lebih afdhol lagi, content milik kita dihost di server negeri sendiri pula.
China adalah contoh yang bagus betapa content domestik bisa menjadikan mereka salah satu raksasa Internet. Mesin pencari Baidu misalnya, bisa bikin pusing Google karena merampas pasarnya di Cina.
Saya sering ngobrol dengan sejumlah teman praktisi dan pengusaha Internet di Indonesia, mereka bilang, yang penting bukan bagaimana bandwidth terus diperlebar (ini tentu saja penting supaya akses kita makin enak), tetapi yang lebih penting bagaimana content dan layanan lokal diperbanyak dan ditingkatkan kualitas sehingga trafficnya juga meningkat.
Silahkan ditanya ISP-ISP di Indonesia: sebagian besar duit yang harus mereka keluarkan karena besarnya bandwidth yang digunakan pengguna kita ke luar negeri. “Kalau fifty-fifty tentu akan lebih ringan,” begitu kata mereka.
Jadi ini juga bukan soal nasionalisme atau bukan — ini adalah semata soal bisnis dalam jangka panjang.
Atau sampai mau bikin internet nasional sendiri? Gila aja.
enda
Dec 30, 2006 at 11:03 am
Kembali aneh mas, kalo ISP mengeluh soal membayar bandwidth ke luar negri, toh yang bayar bandwidth itu adalah pengguna. Kalo mau harusnya ISP Indonesia menyediakan paket dengan harga langganan lebih murah 80% tapi hanya diberi akses untuk situs lokal.
Mungkin ada yang berminat mencoba?
China, Thailand, Jepang, Korea lebih masuk akal kalo lokal contentnya kuat, karena masyarakat yg homogen, culture yang lebih unik dan faktor utama adalah penggunaan karakter huruf mereka sendiri
beast
Dec 30, 2006 at 11:31 am
dengan keterbatasan justru seharusnya melahirkan banyak inovasi untuk mengatasinya, bukan sebaliknya.
keunggulan content (yg di hosting di) dalam negeri ada pada bandwith. buat saja content yg haus bandwith, jadi walaupun ada content di luar yg lebih bagus belum tentu usable jika diakses dari sini.
R. Iqbal
Dec 30, 2006 at 9:22 pm
Saya rasa memang sudah saatnya kita mengembangkan content lokal. Kasus kemarin sudah cukup untuk menjadi pelajaran untuk kita semua.
asf
Jan 2, 2007 at 11:34 pm
Enda=>>
Kembali aneh mas, kalo ISP mengeluh soal membayar bandwidth ke luar negri, toh yang bayar bandwidth itu adalah pengguna. Kalo mau harusnya ISP Indonesia menyediakan paket dengan harga langganan lebih murah 80% tapi hanya diberi akses untuk situs lokal.
Mungkin ada yang berminat mencoba?
=====
Menarik nih idenya. Termasuk menurunkan biaya hosting di Indonesia.
Kalau ada ISP yang menyediakan layanan itu saya mau melanggannya
Pengalaman saya, menggunakan fasilitas yang servernya di luar itu karena mudah dan murah.
Roby
Jan 8, 2007 at 8:52 am
Menarik Mas Budi, bukti tambahan bahwa tekanan globalisasi justru memperkuat gaya sentrifugal: kecenderungan untuk memperkuat lokal.
my own log » Blog Archive » Sepinya hidup tanpa Internet
Jan 30, 2007 at 10:13 am
[...] Dari setiap bencana yang kita alami ambil saja berkahnya yang mana kita harus menggalakan konten lokal. Dan ga lupa salut buat mereka yang bekerja keras meng-konek-kan link internasional Indonesia dengan berbagai cara. Thank’s to you all. [...]